I don’t care about autism," kata fotografer dari San Francisco, Timothy Archibald, "they can frustrate you to no end.

Anak laki-laki pertama Archibald, Elijah (Eli) lahir di tahun 2001. Saat berumur 5 tahun, Archibald dan Eli mulai membuat kolaborasi foto untuk lebih mengerti satu sama lain. Dan segera setelah proyek itu dimulai, Eli didiagnosis dengan autisme. Walaupun dignosis ini memberikan pemahaman untuk mengerti kondisi anaknya dengan lebih baik, itu tidak menghilangkan misteri cara untuk menemukan hubungan emosi dengan Eli. Dia menjelaskan bahwa dia tidak peduli dengan diagnosisnya, yang penting baginya adalah hubungannya dengan Eli, serumit apapun pada akhirnya.

"Proyek ini dimulai saat periode frustasi. Mengapa guru-gurunya marah dan mengapa dia sangat berbeda dengan adik laki-lakinya?
Orang-orang melakukan beberapa hal yang membuat mereka merasa melakukan sesuatu: diet, pengobatan baru, dokter khusus. Dan ini membuatku merasa bahwa aku sedang melakukan sesuatu.. Kami harus tetap bekerja agar setara terhadap sesuatu.”

Proyek foto ini membuahkan buku ECHOLILIA: Sometimes I wonder (2010). Echolilia sendiri adalah ejaan alternatif dari echolalia, menunjukkan kebiasaan pengulangan kata yang sering ditemukan pada tingkah laku anak autis. Idenya adalah: fotografi adalah bentuk penyalinan. Anak adalah bentuk pengulangan.

Dua tahun setelah Echolilia selesai, Elijah, dengan kesadaran diri yang baik dan percaya diri dalam nada suaranya, merefleksikan tanggapannya terhadap proyek ini,
It kind of looks into my mind a bit, and it can kind of show what the autistic brain is like and what autistic kids, or maybe just normal kids in the ages of 5-8, would do.

Pada akhirnya hidup hanyalah sebuah proses yang harus dijalani.

Foto & artikel dari (1) (2) (3)
timothyarchibald.com
Beli ECHOLILIA

  1. aurasundus reblogged this from heyaristi
  2. fahrialfauzi reblogged this from heyaristi and added:
    Pada akhirnya hidup adalah sebuah proses yang harus dijalani
  3. heyaristi posted this